Pada perdagangan sebelumnya (9 Oktober 2026):
- IHSG ditutup menguat +1,04% di level 6.093,76.
- Rupiah ditutup menguat +0,08% di level 17.875/USD.
Pada perdagangan Jumat minggu lalu, baik IHSG maupun nilai Rupiah terhadap USD ditutup menguat. Namun demikian, minggu ini nilai Rupiah akan menghadapi tantangan dengan banyaknya sentimen, terutama dari luar negeri.
Dari dalam negeri, diinformasikan bahwa BI berkomitmen akan melakukan intervensi valas secara lebih agresif untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah jika tekanan global meningkat, terutama akibat ketegangan Timur Tengah, kenaikan harga minyak hingga penguatan USD. BI menilai kondisi domestik relatif terkendali dengan dukungan surplus perdagangan dalam negeri, namun demikian BI akan terus memantau pergerakan mata uang negara sebanding sebagai pembanding tekanan terhadap Rupiah.
Pada hari Kamis 15 Oktober 2026, Bank Indonesia akan mengumumkan data Utang Luar Negeri (ULN) periode Agustus 2026. Sebagai informasi, Utang Luar Negeri (ULN) pada periode Juli 2026 mengalami peningkatan 4,9% secara tahunan dengan dominasi utang pemerintah. Bila jumlah utang negara mengalami peningkatan signifikan, maka pelaku pasar dapat menilai bahwa kebutuhan USD terhadap IDR akan meningkat sehingga dapat menjadi penekan bagi nilai Rupiah.
Global
Pasar saham di Wall Street pada perdagangan Jumat minggu lalu ditutup menguat. Indeks Dow Jones ditutup menguat 0,83%, S&P 500 ditutup menguat 0,59% dan Nasdaq Composite ditutup menguat 0,64%. Penguatan pasar saham terjadi setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan bahwa Rusia bersedia memasok diesel ke Amerika Serikat dan pasar global. Dengan adanya pasokan diesel dari Rusia, diharapkan dapat menahan laju kenaikan harga energi, meskipun harga minyak dunia saat ini masih tinggi.
Sentimen global yang menjadi perhatian pasar untuk minggu ini antara lain pertemuan antara IMF dan Bank Dunia yang akan diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Pertemuan akan diselenggarakan mulai tanggal 12–18 Oktober 2026. Pelaku pasar akan memantau pertemuan tersebut untuk mencari informasi terkait pertumbuhan ekonomi, stabilitas keuangan serta kondisi pasar keuangan global.
Dari Amerika Serikat, FOMC meeting akan dilaksanakan pada tanggal 27–28 Oktober 2026. Untuk itu, pelaku pasar tentu akan mencari informasi terkait data dan kegiatan ekonomi yang berpotensi mempengaruhi kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat tersebut yang antara lain, pada hari Rabu 14 Oktober 2026 akan dirilis data inflasi dari sisi konsumen baik secara bulanan maupun tahunan. Berikutnya, pada hari Kamis 15 Oktober 2026 akan dirilis inflasi dari sisi produsen. Bila inflasi dianggap masih tinggi, maka potensi kenaikan suku bunga akan meningkat.
Pada hari Kamis 15 Oktober 2026 juga akan dirilis data tenaga kerja yaitu klaim pengangguran mingguan. Sebagai informasi, pada periode minggu sebelumnya, klaim pengangguran mengalami penurunan yang berarti data tenaga kerja cukup kuat. Bila data tenaga kerja kuat, inflasi juga berpotensi untuk tetap tinggi.
Pelaku pasar juga akan memperhatikan statement dari pejabat The Fed yang akan disampaikan pada beberapa kesempatan minggu ini, termasuk di antaranya dari ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pertemuannya dengan pejabat IMF di Bangkok.
Dari China, minggu ini juga akan dirilis beberapa data ekonomi penting, antara lain data inflasi baik umum maupun inflasi inti. Selain itu juga akan dirilis data neraca dagang periode September 2026. Bila inflasi China mengalami peningkatan dan jumlah impor yang juga meningkat, hal ini dapat menjadi sentimen positif bagi nilai Rupiah mengingat China adalah mitra dagang yang besar bagi Indonesia.
Sources: CNBC Indonesia, Refinitiv, Trading Economics; Web Site Bank Indonesia
NDF pagi ini (09:07): 17.903–17.911
USD/IDR perkiraan hari ini: 17.850–17.950
Indikator Moneter Bank Indonesia:
| BI-Rate | 5,75% (23/09/2026) |
| Inflasi IHK (YoY) | 3,19% (31/08/2026) |
| Cadangan Devisa | USD 146,320 Miliar (30/09/2026) |
| Closed USD/IDR | 17.875 (09/10/2026) |
| Closed JPY/IDR | 112,89 (09/10/2026) |
| Closed SGD/IDR | 13.963 (09/10/2026) |
CCY BN & TT JTrust Bank:
Mata Uang yang Dapat Dilayani:
| 1 | Dollar AS (USD) |
| 2 | Dollar Singapore (SGD) |
| 3 | Yen Jepang (JPY) |
| 4 | Euro (EUR) |
| 5 | Dollar Australia (AUD) |
| 6 | Pound Sterling Inggris (GBP) |
| 7 | China Yuan (CNY) |
| 8 | Dollar New Zealand (NZD) |
| 9 | Dollar Hongkong (HKD) |
| 10 | Won Korea (KRW) |
Ketentuan Transaksi Valuta Asing terhadap Rupiah:
- Transaksi valuta asing terhadap rupiah dengan nominal paling banyak sebesar (≤) threshold, cukup melampirkan Surat Pernyataan di bawah threshold dan copy identitas.
- Transaksi valuta asing terhadap rupiah dengan nominal di atas (>) threshold wajib melampirkan Surat Pernyataan di atas threshold dan copy dokumen underlying, NPWP serta identitas.
Hubungi Treasury Sales Bank JTrust Indonesia:
(021) 2926-1114 (hunting)
- Bintang: 0812 2650 949
- Hanif: 0811 8762 001
- Naomi: 0877 0633 1585
- Ade: 0821 6939 7410
Disclaimer:
Meskipun informasi ini disusun oleh PT Bank JTrust Indonesia Tbk (J Trust Bank) dari sumber yang dapat diandalkan, J Trust Bank tidak memberikan pernyataan atau jaminan mengenai keakuratan atau kelengkapannya dan tidak bertanggung jawab atas kesalahan atau kelalaian apa pun. Oleh karena itu, informasi yang terkandung bukanlah jaminan kinerja di masa mendatang dan tidak boleh diandalkan secara berlebihan. Semua informasi yang diungkapkan di sini mungkin dapat berubah tanpa pemberitahuan. Tidak ada bagian dari informasi ini yang boleh direproduksi dengan cara apa pun tanpa izin tertulis dari J Trust Bank.